Kamis, 26 Mei 2022
  • SELAMAT DAN SUKSES SMAN 1 SRAGEN | SMANSA BRILIAN !!!

TUGAS AKSI NYATA MODUL 1.4.a.10.2 Oleh: Ayu Chandra Dewi – SMA Negeri 1 Sragen

TUGAS AKSI NYATA MODUL 1.4.a.10.2 Oleh: Ayu Chandra Dewi - SMA Negeri 1 Sragen
Sumber : Filosofi KHD, nilai dan peran guru penggerak, visi guru penggerak, dan budaya positif
Penulis : AYU CHANDRA DEWI, S,Pd.

 

TUGAS AKSI NYATA MODUL 1.4.a.10.2

Judul: MENANAMKAN PEMBELAJARAN YANG MENYENANGKAN UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS BELAJAR SISWA SEBAGAI BUDAYA POSITIF

 

CGP ANGKATAN 4 KABUPATEN SRAGEN

SMA NEGERI 1 SRAGEN

 

1. LATAR BELAKANG

Sekolah diibaratkan sebagai tanah tempat bercocok tanam sehingga guru harus mengusahakan sekolah menjadi lingkungan yang menyenangkan, menjaga, dan melindungi murid dari hal-hal yang tidak baik. Dengan demikian,  karakter murid tumbuh dengan baik. Sebagai contoh, murid yang tadinya malas menjadi semangat, bukan kebalikannya. Murid akan mampu menerima dan menyerap suatu pembelajaran bila lingkungan di sekelilingnya terasa aman dan nyaman. Selama seseorang merasakan tekanan-tekanan dari lingkungannya, maka proses pembelajaran akan sulit terjadi.

Sekolah adalah rumah kedua bagi para siswa, oleh karena itu tugas kita sebagai seorang guru memberikan rasa nyaman, aman, dan menyenangkan selama proses pembelajaran. Kita perlakukan peserta didik layaknya anak kandung kita, sehingga rasa sayang itu keluar secara tulus, sehingga terciptalah merdeka belajar.

Di dalamnya ada nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan yang menjadi pedoman bagi seluruh warga sekolah untuk berperilaku. Nilai-nilai yang dimiliki akan membentuk dan mengembangkan karakter murid. Agar lebih memahami urgensi budaya positif di sekolah kita perlu memahami peran sekolah sebagai intitusi pembentukan karakter.

Di zaman revolusi industri 4.0, kita sebagai guru atau pendidik dihadapkan pada permasalahan krisis moral anak bangsa. Hal ini disebabkan karena sebagian besar dari generasi muda sekarang mengikuti tren budaya dari luar tanpa terlebih dahulu mengkaji ulang dan menyesuaikan serta menyaring budaya tersebut ditambah lagi dengan kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat memberikan dampak terhadap perkembangan karakter anak. Untuk itu, kita sebagai pendidik perlu menerapkan kembali budaya positif pada anak di lingkungan sekolah agar nantinya mereka mampu menyaring dampak negatif dari budaya luar tersebut.

Budaya positif di sekolah merupakan nilai-nilai, keyakinan dan asumsi dasar yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan nilai-nilai yang dianut dan diyakini di sekolah. Budaya positif tersebut berisi kebiasaan-kebiasaan yang sudah disepakati bersama dan dijalankan dalam waktu yang lama dengan memperhatikan kodrat anak dalam hal ini kodrat alam dan kodrat zaman serta keberpihakan pada anak.

Hal ini sejalan dengan filosofi pemikiran Ki Hadjar Dewantara “Pendidikan itu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagaiaan yang setinggi-tingginya.”

Upaya dalam menanamkan budaya positif di sekolah, guru memiliki peran sentral yaitu posisi kontrol guru sebagai manajer dalam meningkatkan kreativitas belajar siswa membentuk budaya positif. Guru juga berperan sebagai motivator dan inspirator dalam menumbuhkan budaya positif sehingga nantinya guru akan menjadi “ing ngarsa sung tuladha” dan menjadi agen transformasi perubahan untuk mewujudkan murid yang memiliki karakter profil pelajar Pancasila. Dalam menciptakan budaya positif, guru tentunya harus bekerjasama dengan ekosistem sekolah dalam hal ini kepala sekolah, rekan-rekan guru dan juga murid serta melibatkan orangtua dan masyarakat sekitar. Adanya kolaborasi antara pihak sekolah dengan masyarakat dalam meningkatkan kreativitas belajar siswa membentuk budaya positif dengan menciptakan karakter murid yang memiliki nilai-nilai pelajar Pancasila.

 

Download disini

 

admin

Tulisan Lainnya

2 Komentar

Dra. MK Sulistyadewi, M.Pd, Sabtu, 29 Jan 2022

Benar adanya bahwa pada era sekarang ini karakter anak seolah hilang entah ke mana, sehingga moral anak agak kurang terarah. Maka dari itu budaya positif harus selalu diadakan dan dilaksanakan di mana saja, terutama di sekolah. Supaya apa yang menjadi fokus kita bisa tercapai. Dengan demikian seorang guru harus menjadi roll model (contoh) bagi anak2. Sehingga seorang guru juga harus berinovasi untuk semua itu…….
Terimakasih

Balas
    Ayu Chandra Dewi, Jumat, 18 Feb 2022

    Terima kasih atas motivasinya Bu MKS Dewi (kepsek SMPN 5 Sragen) semoga membawa kebermanfaatan terutamanya di dunia pendidikan.

    Balas

KELUAR