Kamis, 26 Mei 2022
  • SELAMAT DAN SUKSES SMAN 1 SRAGEN | SMANSA BRILIAN !!!

TUGAS AKSI NYATA MODUL 1.4.a.10.2 Oleh: Bekti Ratna Timur Astuti – SMA Negeri 1 Sragen

TUGAS AKSI NYATA MODUL 1.4.a.10.2 Oleh: Bekti Ratna Timur Astuti – SMA Negeri 1 Sragen

PENERAPAN BUDAYA POSITIF DI SEKOLAH

 

TUGAS AKSI NYATA MODUL 1.4.a.10.2

Oleh: Bekti Ratna Timur Astuti,S.Kom,M.Pd – SMA Negeri 1 Sragen

 

LATAR BELAKANG

 

Ki Hadjar Dewantara berpendapat bahwa, Pendidikan adalah pembudayaan buah budi manusia yang beradab dan buah perjuangan manusia terhadap dua kekuatan yang selalu mengelilingi hidup manusia yaitu kodrat alam dan zaman atau masyarakat (Dewantara II , 1994). Dengan demikian, pendidikan itu sifatnya hakiki bagi manusia sepanjang peradabannya seiring perubahan jaman dan berkaitan dengan usaha manusia untuk memerdekakan batin dan lahir sehingga manusia tidak tergantung kepada orang lain akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri. Sedang Pengajaran adalah Pendidikan dengan cara memberi ilmu atau pengetahuan agar bermanfaat bagi kehidupan lahir dan batin (Dewantara I, 2004).

Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. KHD  memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka  pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya. Pendidikan dapat menjadi  ruang berlatih dan bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau  diwariskan. Maksud pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia, maupun anggota masyarakat. Pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada  anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya  kekuatan kodrat anak

Sebagai pendidik, guru diibaratkan bagai seorang petani yang memiliki peranan penting untuk menjadikan tanamannya tumbuh subur. Guru harus memastikan bahwa tanah tempat tumbuhnya tanaman adalah tanah yang cocok untuk ditanami. Ki Hadjar Dewantara menyatakan bahwa:“…kita ambil contoh perbandingannya dengan hidup tumbuh-tumbuhan, seorang petani (dalam hakikatnya sama kewajibannya dengan seorang pendidik) yang menanam jagung misalnya, Bibit jagung tidak semuanya bibit yang unggul, kita siapkan tanah /ladang untuk tempat menanamnya, petani hanya dapat menuntun tumbuhnya jagung, petani tidak bisa mengubah bibit jagung yang ditanam tumbuh menjadi tanaman padi ia dapat memperbaiki kondisi tanah, memelihara tanaman jagung, memberi pupuk dan air, membasmi ulat-ulat atau jamur-jamur yang mengganggu hidup tanaman jagung dan lain sebagainya.”

Dari uraian tersebut, dapat dipahami bahwa sekolah diibaratkan sebagai tanah/ladang  tempat bercocok tanam, Bibit diibaratkan sebagai siswa yang heterogen. ( sehingga guru harus mengusahakan agar sekolah menjadi lingkungan yang menyenangkan, menjaga, dan melindungi murid dari hal-hal yang tidak baik. Dengan demikian, karakter murid tumbuh dengan baik. Sebagai contoh, murid yang tadinya malas menjadi semangat, bukan kebalikannya. Murid akan mampu menerima dan menyerap suatu pembelajaran bila lingkungan di sekelilingnya terasa aman dan nyaman. Selama seseorang merasakan tekanan-tekanan dari lingkungannya, maka proses pembelajaran akan sulit terjadi. Maka di sini lah peran guru dibutuhkan untuk terlaksananya budaya positif di sekolah. Budaya positif tumbuh dari keyakinan akan nilai kebajikan yang disepakati bersama oleh seluruh warga sekolah dan menjadi kebiasaan baik yang dilakukan terus menerus dalam waktu lama.

SMAN 1 Sragen, meskipun masih kondisi pandemi tapi sudah melaksanakan PTM, meskipun masih PTM terbatas. Selama masa pandemi siswa selama ini melaksanakan pembelajaran secara daring sehingga bagi anak-anak khususnya kelas X belum begitu terbiasa untuk disiplin sekolah, misalnya masih banyak siswa yang terlambat, masih suka bergerombol bercanda dengan teman-temannya, copot masker, pinjam peralatan tulis pada temannya. Dan masih banyak lagi siswa – siawa  yang belum disiplin. Murid-murid telah dapat berinteraksi lagi secara langsung baik dengan sesama teman maupun dengan semua gurunya. Namun ternyata, ditemukan bahwa masih ada murid yang kurang melaksanakan disiplin waktu sehingga masih terlambat masuk ke dalam kelas. Untuk Pelajaran pelajaran Informatika kegiatan Tatap muka dilaksanakan di laboratorium komputer bukan di kelas, sehingga siswa harus berjalan dari kelasnya menuju laboratorium komputer. Dengan kondisi ini kadang dimanfaatkan siswa ketika perjalanan menuju Lab komputer ada yang singgah dulu ke kantin. Sehingga waktu pembelajaran di laboratorium komputer berkurang. Tentu saja hal ini menjadi permasalahan yang harus diselesaikan dengan penerapan budaya positif di sekolah. Pelaksanaan penerapan budaya positif ini dilaksanakan pada saat kegiatan belajar mengajar pada mata pelajaran Informatika.

Disiplin positif merupakan landasan untuk membangun budaya positif di sekolah. Menerapkan disiplin positif berarti  membekali murid dengan keterampilan social dan mendukung pertumbuhan karakter yang baik seperti rasa hormat, kepedulian terhadap orang lain, komunikasi yang efektif, pemecahan masalah, tanggung jawab kontribusi, kerjasama. Menerapkan pendekatan disiplin positif dapat membantu sekolah memainkan peran penting dalam menciptakan masyarakat yang lebih adil dan manusiawi.

Download disini

KELUAR