Kamis, 26 Mei 2022
  • SELAMAT DAN SUKSES SMAN 1 SRAGEN | SMANSA BRILIAN !!!

TUGAS AKSI NYATA MODUL 1.4.a.10.2 Oleh: Gita Eka Setyasari– SMA Negeri 1 Sragen

TUGAS AKSI NYATA MODUL 1.4.a.10.2 Oleh: Gita Eka Setyasari– SMA Negeri 1 Sragen

PENERAPAN BUDAYA POSITIF DI SEKOLAH

TUGAS AKSI NYATA MODUL 1.4.a.10.2

Oleh: GITA EKA SETYASARI – SMA Negeri 1 Sragen

1.LATAR BELAKANG

Ki Hajar Dewantara membedakan kata Pendidikan dan Pengajaran dalam memahami arti dan tujuan  Pendidikan. Menurut Ki Hajar Dewantara, pengajaran (onderwijs) adalah bagian dari Pendidikan.  Pengajaran merupakan proses Pendidikan dalam memberi ilmu atau berfaedah untuk  kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sedangkan Pendidikan (opvoeding) memberi  tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai  keselamatan dan kebahagiaan yang setinggitingginya baik sebagai seorang manusia  maupun sebagai anggota masyarakat.

Jadi menurut Ki Hajar Dewantara (2009), “pendidikan dan  pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup  manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya” Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. Ki Hajar Dewantara  memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka  pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya. Pendidikan dapat menjadi  ruang berlatih dan bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau  diwariskan. Maksud pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya sebagai manusia.

Pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada  anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya  kekuatan kodrat anak. Guru seperti seorang petani (dalam hakikatnya sama kewajibannya dengan seorang  pendidik) yang menanam jagung misalnya, hanya dapat menuntun tumbuhnya jagung, ia  dapat memperbaiki kondisi tanah, memelihara tanaman jagung, memberi pupuk dan air,  membasmi ulat-ulat atau jamur-jamur yang mengganggu hidup tanaman padi dan lain  sebagainya. Budi pekerti, watak, karakter adalah bersatunya (perpaduan harmonis) antara gerak  pikiran, perasaan, dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga/semangat. Bermain adalah kodrat anak, Pikiran-Perasaan-Kemauan-Tenaga (Cipta-Karsa-Karya-Pekerti)  sudah ada pada diri anak, dan permainan anak dapat menjadi bagian pembelajaran di  sekolah. Bebas dari segala ikatan, dengan suci hati mendekati sang anak, bukan untuk meminta  sesuatu hak, melainkan untuk berhamba pada sang anak. Pokoknya pendidikan harus  terletak di dalam pangkuan ibu bapak karena hanya dua orang inilah yang dapat “berhamba pada sang anak” dengan semurni-murninya dan seikhlas-ikhlasnya, sebab cinta kasihnya  kepada anak-anaknya boleh dibilang cinta kasih tak terbatas. Berdasarkan pemikiran di atas, maka saya ingin mengimplementasikan Budaya Positif di  sekolah tempat saya bertugas yaitu di SMAN 1 Sragen.

Budaya positif di sekolah merupakan nilai-nilai, keyakinan dan asumsi dasar yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan nilai-nilai yang dianut dan diyakini di sekolah. Budaya positif tersebut berisi kebiasaan-kebiasaan yang sudah disepakati bersama dan dijalankan dalam waktu yang lama dengan memperhatikan kodrat anak dalam hal ini kodrat alam dan kodrat zaman serta keberpihakan pada anak.

Hal ini sejalan dengan filosofi pemikiran Ki Hadjar Dewantara “Pendidikan itu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagaiaan yang setinggi-tingginya.”

Upaya dalam menanamkan budaya positif di sekolah, guru memiliki peran sentral yaitu posisi kontrol guru sebagai manajer dalam meningkatkan kreativitas belajar siswa membentuk budaya positif. Guru juga berperan sebagai motivator dan inspirator dalam menumbuhkan budaya positif sehingga nantinya guru akan menjadi “ing ngarsa sung tuladha” dan menjadi agen transformasi perubahan untuk mewujudkan murid yang memiliki karakter profil pelajar Pancasila. Dalam menciptakan budaya positif, guru tentunya harus bekerjasama dengan ekosistem sekolah dalam hal ini kepala sekolah, rekan-rekan guru dan juga murid serta melibatkan orangtua dan masyarakat sekitar. Adanya kolaborasi antara pihak sekolah dengan masyarakat dalam meningkatkan kreativitas belajar siswa membentuk budaya positif dengan menciptakan karakter murid yang memiliki nilai-nilai pelajar Pancasila.

 

2.TUJUAN

Adapun tujuan penerapan budaya positif ini adalah:

  1. Menciptakan dan menumbuhkan budaya positif pada semua warga sekolah sebagai contoh : mandiri, tanggung jawab, menghargai orang lain, menghormati orang lain untuk menciptakan kenyamanan bersama
  2. Mendukung perilaku positif yang ditunjukkan oleh semua warga sekolah.
  3. Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan

Download disini

KELUAR