Kamis, 26 Mei 2022
  • SELAMAT DAN SUKSES SMAN 1 SRAGEN | SMANSA BRILIAN !!!

TUGAS AKSI NYATA MODUL 1.4.a.10.2 Oleh: Aisyah– SMA Negeri 1 Sragen

TUGAS AKSI NYATA MODUL 1.4.a.10.2 Oleh: Aisyah– SMA Negeri 1 Sragen

AKSI NYATA BUDAYA POSITIF MODUL 1.4.a.10.2

“PENERAPAN BUDAYA POSITIF SEBAGAI KARAKTER WARGA SEKOLAH UNTUK

MEWUJUDKAN PROFIL PELAJAR PANCASILA”

 

Oleh : AISYAH,S.T.,M.Pd
CGP ANGKATAN 4 _SMA N 1 SRAGEN KAB. SRAGEN

 A.Latar Belakang

Maksud pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia, maupun anggota masyarakat, dengan kata lain seorang pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak, ibarat seorang petani yang menanam jagung misalnya, hanya dapat menuntun tumbuhnya jagung, ia dapat memperbaiki kondisi tanah, memelihara tanaman jagung, memberi pupuk dan air, membasmi ulat-ulat atau jamur-jamur yang mengganggu hidup tanaman padi dan lain sebagainya.

Seorang anak bukanlah seperti kertas kosong (teori tabularasa oleh John Locke, mengungkapkan bahwa anak lahir ibarat sebuah ‘kertas kosong’ yang mana membutuhkan orang dewasa untuk mengisi dan mewarnainya) tetapi anak telah membawa kekuatan kodrat dan potensi baiknya masing-masing yang masih bergaris halus, seorang pendidik bertugas menebalkan garis tersebut, menuntun dan menguatkan potensi-potensi kebaikan yang dimiliki seorang anak.

Banyak cara atau metode yang dapat dilakukan seorang pendidik dalam menuntun kekuatan kodrat anak “…kita ambil contoh perbandingannya dengan hidup tumbuh-tumbuhan seorang petani (dalam hakikatnya sama kewajibannya dengan seorang pendidik) yang menanam padi misalnya, hanya dapat menuntun tumbuhnya padi, ia dapat memperbaiki kondisi tanah, memelihara tanaman padi, memberi pupuk dan air, membasmi ulat-ulat atau jamur-jamur yang mengganggu hidup tanaman padi dan lain sebagainya.” maka seorang pendidik dapat melakukan hal

seperti itu melalui lingkup peran dan nilai sebagai seorang guru penggerak yaitu berperan menjadi pemimpin pembelajaran, menggerakkan komunitas praktisi, mendorong kolaborasi antar guru, menjadi coach bagi guru lain, dan mewujudkan kepemimpinan murid. Utamanya peran kepemimpinan pembelajaran agar mampu mendorong tumbuh kembang peserta didik secara holistic, aktif dan proaktif dalam mengembangkan pendidik lainnya untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat kepada peserta didik (merdeka belajar) serta menjadi teladan dan agen transformasi ekosistem pendidikan untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila. Tentunya dalam menjalankan peran tersebut seorang guru harus mempunyai nilai-nilai keberpihakan pada murid, mandiri, kolaboratif, reflektif dan inovatif.

Dimensi profil Pancasila meliputi 1) Beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia; 2) Mandiri; 3) Bergotong-royong; 4) Berkebinekaan global; 5) Bernalar kritis; 6) Kreatif. Dimensi tersebut merupakan suatu karakter yang sangat dibutuhkan oleh insan Indonesia sebagai tujuan pendidikan nasional sehingga menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat di mata dunia.

Dimensi profil pelajar Pancasila merupakan budaya positif yang harus tumbuh menjadi karakter semua warga sekolah. Karakter budaya positif tersebut dapat terwujud apabila diterapkan disiplin positif . Menurut KHD “dimana ada kemerdekaan, disitulah harus ada disiplin yang kuat. Sungguhpun disiplin itu bersifat ”self discipline” yaitu kita sendiri yang mewajibkan kita dengan sekeras-kerasnya, tetapi itu sama saja; sebab jikalau kita tidak cakap melakukan self discipline, wajiblah penguasa lain mendisiplin diri kita. Dan peraturan demikian itulah harus ada di dalam suasana yang merdeka.

 

Download disini

KELUAR